My major mistake of the year: lied about my status from the beginning & lost the most eligible Mr Right. I didn't tell him because I thought I wanted him to know me of being me, just me first...before discovering my history. Rupanya, according to him things would be different, that I had the chance of bertakhta di hatinya if only I had told him from the very beginning. Tapi sekurang-kurangnya saya bersyukur sebab we are still friends - SAHABAT. Terima kasih I**** sebab walaupun saya yang buat ko menangis sebab ditipu, ko tetap anggap saya someone special, in a perspective of Sahabat, of course. Terima kasih sebab menjaga maruah saya di depan rakan-rakanmu, terima kasih sebab masih setia menjadi sahabat, terima kasih sebab sokongan moral, terima kasih kerana saya tetap & kekal buat ko senyum dan ketawa. Terima kasih yang tidak terhingga kerana memaafkan saya dan menghormati saya!
I made you cried in devastation sebab tipu status, you said I should have told you from the beginning, tapi saya juga yang mengembalikan senyuman di muka ko and saya juga yang buat ko happy balik. Inilah nilai seorang sahabat, kan.... Punya terharunya saya bila ko cakap, saya tetap mampu buat ko terhibur dan ketawa riang. Walaupun saya juga sepatutnya boleh mempertikaikan ko sendiri, sebab ko sendiri pun rupanya duda anak satu. Ko pun sendiri tipu saya. You said you cannot accept me as your spouse sebab your parents would not give their blessings, that they only want a maiden to be your future wife. Okay, saya sedar diri saya memang tidak layak.
I like you sebab ko kuat berusaha, pandai cari duit, business minded, rajin bekerja, bertanggung jawab, sentiasa pandang ke hadapan....bukan sebab ko handsome (walaupun your height memang antara faktor utama buat saya tertarik jugalah) dan saya sememangya sedih terlepas ko. Padahal baru 22nd lalu ko menangis kegembiraan bila saya terima hati ko. Tapi tidak apalah, God has His own reasons, saya terima dalam iman dengan hati terbuka. Sedih-sedih pun beberapa hari jak, paling minggu-minggu, tidak pun bulan-bulan. We'll get over it sooner or later. Tapi kesedihan ini memotivasikan saya untuk menyibukkan diri dengan tugas-tugas sebagai Pemaju Masyarakat. Baguslah. I don't think saya sendiri pun even hati ko terbuka kali kedua dan saya dapat peluang kedua, saya boleh terima ko kembali. I have my ego, too. Once kena reject, sukar untuk terbuka kali kedua. Rajuk saya memang kejam.
Hari ni walaupun penat sebab seharian berurusan kerja di sana sini, and saya sebenarnya teramat malu jumpa ko, saya dengan tebal mukanya pegi jumpa ko juga sebab I wanna see how would you react after all this chaos. It is indeed awkward, you are so different now... Memang saya malu Tuhan sahaja yang tau, that berjalan dekat-dekat pun segan, saya sengaja menjarakkan diri but it shows and you commented I look so sad. It wasn't sadness, itu rasa ashamed yang teramat sangat. Memang saya tidak layak berada di samping ko sampai saya rasa we rather end this friendship. Saya sikit lagi ambil keputusan to stop texting, stop calling you. I cannot even look at you straight to your face. But then, you missed call me at 9.25pm...tandanya ko masih mau dengar suara & kecoh-kecoh saya. I called & found out that you're sick. Yeah, blame on me. Tapi guilt berkurang sikit when you said "You console me with ur wits." Walaupun kita sudah berjanji yang kita tetap bersahabat dan masih berhubung macam sebelum-sebelum ni & teda perubahan....seeing ur attitude tadi petang yang cold towards me sikit lagi buat saya buang ko sebagai kawan. But then, I think we still need each other, comfort each other, console one another...atas nama SAHABAT. Itupun depends. Tengoklah esok-esok, mungkin saya juga yang tarik diri.
Phewww...what a day! Pat..pat...my shoulder, I have courage to all these.
Padan muka saya, I deserved this.
No comments:
Post a Comment